BUDAYA NYONGKOLAN

<embed src=”http://images.multiply.com/multiply/multv.swf&#8221; type=”application/x-shockwave-flash” width=”250″ height=”180″ FLASHVARS=”first_video_id=swastikaayu:video:81&base_uri=multiply.com&is_owned=1&security=1WSAeLdJnz%2BPy52nHRLxZg” allowfullscreen=”true” wmode=”transparent” quality=”high” allowscriptaccess=”always”></embed>

Memamahami nilai budaya secara lebih mendalam haruslah dilandasi dengan pengertian dan pemahaman dasar dari setiap perangkat ,simbol serta prosesinya, karena dalam piranti-piranti simbolik tersebut terbungkus tatanan nilai-nilai ynag mencerminkan kearipan luhur yang oleh karenanya menjelma menjadi pola budaya sebagai hukum adat normatif.Perangkat,simbol, dan presesinya dapat kita temui dalam berbagai sumber, seperti : ungkapan dalam komonikasi sehari-hari, intraksi dan transksi-transaksi adat seperti lelakak atau lawas sesenggak (perumpamaa), nyongkolan da sebagainya.
Dalam perpustakaan ilmu hukum adat, para ahliseperti Kucara Ningrat,1974; Y.Boelaars 1984; Soejarno Soekanto dan soleman B.Taneko, 1984 (B.Taneko, 1987 :83), dijelaskan bahwa tentang nilai-nilai social budaya focus pandangan akan selalu diberikan kepada beberapa masalah pokok yang meliputi:
• Hakekat Hidup
• Hakekat Karya
• Hakekat manusia,alam,ruang dan waktu
• Hakekat manusia dalam hubungannya dengan alam sekitar,
• Hakekat manusia dalam hubungannya dengan sesama.
Hakekat nilai sosial budaya tersebut diatas, dalam kehidupan sosial yang bertatanan dan beradab akan muncul sebagai ugeran dalam berprilaku dan berinteraksi antara sesama dikalangan kominitas suku sasak.
Sejalan dengan hal-hal tersebut pada era globalisasi modern sekarang ini beberapa tradisi ata kebiasaan yang ada ditengah-tengah masyarakat kita termasuk budaya adat nyongkolan mulai terpengaruh dan cendrung ke arah yang yang negative.hal ini diakibatkan oleh budaya luar yang kerap dipraktekkan oleh warga masyarakat terutama mereka yang telah menganggap moderenisasi itu adalah sesuatu yang harus berubah,dan ini biasanya lebih berpngaruh pada kaum muda-mudi.
Saat ini bagi sebagian para muda mudi yang melakukan nyongkolan jarang sekali mereka menggunakan pakaian adat nyongkolan atau yang di sebut pakaian “ Godek Nongkek” mereka lebih senang memakai celana jeans yang di balut selendang dan baju kaos.kalaupun menggunakan Sapuk (ikat kepala) hannya dilingkarkan di leher. Bahkan yang lebih parah lagi pada saat nyongkolan dengan menggunakan kendaraan bermotor sering kali bertindak ugal-ugalan tanpa mau metaati rambu-rambu lalu lintas serta pengguna jalan lain sehingga tak jarang terjadi kecelakaan yang memakan korban jiwa. Berkaca pada hal-hal tersebut maka sangat berpengaruh pada kearipan budaya dan tradisi yang telah di bangun oleh para nenek moyang kita khususnya budaya nyongkolanYang merupakan sebuah prosesi adat dalam sebuah perkawinan di kalangan suku sasak. Untuk itu dalam tulisan singkat ini akan dimuat sekilas tentang nilai budaya dalamm prosesi adat nyongkolan.

Nyongkolan merupakan acara sorong serah yang dimana pengantin laki-laki mendatangi rumah perempuan, kebiasaan acara nyongkolan ini diikuti oleh banyak orang karena pengantin laki-laki yang akan berkunjung kerumah sang perempuan harus dikawal oleh masyarakat banyak layaknya seorang raja dan ratu yang dikawal perajuritnya. Akan tetapi pada saat ini budaya nyongkolan ini sudah mulai memudar, hal ini disebabkan kurangnya kepedulian masyarakat akan budaya nyongkolan yang dimana budaya nyongkolan ini merupakan ciri khas budaya sasak.

Seperti yang di ungkapkan mustajab kepala dusun Dasan Baru salahsatu penyebab kurangnya perhatian masyarakat akan budaya nyongkolan ini adalah budaya nyongkolan zaman dahulu berbeda dengan nyongkolan zaman sekarang, dimana nyongkolan zaman dulu tidak memerlukan biaya yang cukup banyak dan cukup dengan menggunakan tip dan memutar kaset cilokak (lagu asli sasak) sampai rumah sang permpuan, sedangkan nyongkolan zaman sekarang membutuhkan biaya yang cukup banyak, karena acara nyongkolan harus di iringi oleh gerup musik moderen atau tradisional seperti kecimol, gendang belek, dan ale-ale (aliran musik campuran moderen dan tradisional), walaupun demikian budaya nyongkolan sangat perlu dilestarikan oleh masyarakat karena budaya nyongkolan merupakan ciri khas pulau Lombok.

Disamping masyarakat, pemerintah juga harus ikutserta dalam melestarikan budaya nyongkolan walaupun dengan cara mengadakan berbagai macam acara-acara yang berkaitan dengan budaya agar ciri khas suatu daerah tetap terlihat dengan jelas, karena budaya merupakan aset yang dapat memberikan kontribusi bagi daerah.

 

Iklan

Perihal opini08
Medidik Untuk Maju

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: